sekolahsemarang.com

Loading

cerpen singkat tentang sekolah

cerpen singkat tentang sekolah

Cerpen Singkat Tentang Sekolah: Jendela Dunia, Panggung Kehidupan

Judul: Buku Catatan Usang

Debu menari-nari di bawah sinar matahari yang menerobos jendela kelas. Aroma kapur dan kertas usang menusuk hidung, mengingatkan Rina pada ribuan hari yang telah dilaluinya di tempat ini: SMA Nusa Bangsa. Di tangannya tergenggam erat sebuah buku catatan bersampul cokelat tua, lusuh dan penuh coretan. Buku itu bukan miliknya, melainkan milik almarhum kakeknya, Pak Hasan, seorang guru sejarah yang sangat ia kagumi.

Kakeknya meninggalkan buku itu untuknya saat ia masuk SMA, berpesan, “Rina, sekolah bukan hanya tempat belajar rumus dan teori. Ini adalah jendela dunia, panggung kehidupan. Tulislah pengalamanmu, belajarlah dari kesalahan, dan jadilah dirimu sendiri.”

Rina membuka halaman pertama. Tulisan tangan kakeknya begitu rapi dan indah, meskipun tintanya sudah memudar dimakan waktu. Tertulis tanggal 17 Agustus 1965, hari pertama kakeknya mengajar di sekolah ini. Di bawahnya, sebuah kalimat singkat namun mendalam: “Melihat mata-mata penuh harapan, tanggung jawabku terasa semakin besar.”

Halaman demi halaman, Rina membaca kisah-kisah kakeknya. Tentang murid-muridnya yang berasal dari berbagai latar belakang, tentang perjuangan mereka untuk mendapatkan pendidikan, tentang cita-cita mereka yang membumbung tinggi. Ada kisah tentang seorang anak petani yang berhasil meraih beasiswa ke luar negeri, seorang gadis penjual kue yang menjadi dokter, dan seorang pemuda pemalu yang akhirnya menjadi seorang penulis terkenal.

Rina tersenyum. Kakeknya memang seorang pendongeng ulung. Setiap cerita yang ia tulis selalu mengandung pesan moral yang kuat, disampaikan dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh hati.

Kemudian, Rina menemukan sebuah halaman yang berbeda. Di halaman itu, tulisan kakeknya tampak lebih berantakan, tintanya lebih tebal, seolah ditulis dalam keadaan emosi yang kuat. Tertulis tanggal 10 November 1978.

“Hari ini, aku merasa gagal. Seorang muridku, Andi, dikeluarkan dari sekolah karena terlibat perkelahian. Aku sudah berusaha membimbingnya, memberinya nasihat, tapi sepertinya semua sia-sia. Aku merasa bersalah, seolah aku telah mengecewakannya.”

Rina tertegun. Ia tidak pernah menyangka bahwa kakeknya, yang selalu tampak tegar dan bijaksana, pernah merasa begitu putus asa. Ia melanjutkan membaca.

“Tapi aku tidak boleh menyerah. Andi memang melakukan kesalahan, tapi dia masih punya potensi. Aku harus mencari cara untuk membantunya. Aku harus memberinya kesempatan kedua.”

Kakeknya kemudian menulis tentang usahanya untuk mencari Andi, berbicara dengan orang tuanya, dan akhirnya berhasil meyakinkan kepala sekolah untuk memberikan Andi kesempatan untuk kembali bersekolah. Andi kemudian berubah menjadi lebih baik dan berhasil menyelesaikan sekolahnya dengan baik.

Rina menutup buku catatan itu. Air mata menetes membasahi sampulnya. Ia merasa sangat terharu dan bangga dengan kakeknya. Ia mengerti sekarang apa yang dimaksud kakeknya dengan “jendela dunia, panggung kehidupan.” Sekolah bukan hanya tempat untuk belajar, tetapi juga tempat untuk belajar tentang kehidupan, tentang persahabatan, tentang cinta, tentang kegagalan, dan tentang harapan.

Keesokan harinya, Rina datang ke sekolah dengan semangat baru. Ia tidak lagi merasa minder karena berasal dari keluarga sederhana. Ia tidak lagi merasa takut untuk berpendapat di kelas. Ia mulai aktif dalam kegiatan sekolah, mengikuti organisasi siswa, dan membantu teman-temannya yang kesulitan.

Suatu hari, Rina melihat seorang anak laki-laki duduk sendirian di sudut kelas. Anak itu tampak murung dan tidak bersemangat. Rina mendekatinya dan bertanya, “Hai, kenapa kamu terlihat sedih?”

Anak itu menjawab, “Aku tidak mengerti pelajaran matematika. Aku merasa bodoh dan tidak berguna.”

Rina tersenyum. Ia teringat pada kisah Andi dalam buku catatan kakeknya. Ia berkata, “Jangan putus asa. Semua orang punya kesulitan masing-masing. Aku akan membantumu belajar matematika. Kita bisa belajar bersama setiap hari.”

Anak itu menatap Rina dengan mata berbinar. Ia berkata, “Benarkah? Kamu mau membantuku?”

Rina mengangguk. “Tentu saja. Kita adalah teman. Kita harus saling membantu.”

Mulai hari itu, Rina dan anak laki-laki itu belajar matematika bersama setiap hari. Rina dengan sabar menjelaskan konsep-konsep yang sulit, memberikan contoh-contoh soal, dan menyemangati anak laki-laki itu. Akhirnya, anak laki-laki itu mulai memahami pelajaran matematika dan nilainya pun meningkat.

Suatu hari, anak laki-laki itu menghampiri Rina dan berkata, “Terima kasih, Rina. Kamu telah membantuku untuk tidak menyerah. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu.”

Rina tersenyum. Ia merasa sangat bahagia dan bangga. Ia telah berhasil menolong orang lain, seperti yang dilakukan kakeknya dulu. Ia mengerti sekarang apa yang dimaksud kakeknya dengan “menjadi dirimu sendiri.” Menjadi diri sendiri berarti menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, menjadi orang yang bisa memberikan inspirasi dan harapan.

Rina membuka kembali buku catatan usang kakeknya. Ia mengambil pulpen dan menulis di halaman terakhir, “Kakek, aku mengerti sekarang. Sekolah memang jendela dunia, panggung kehidupan. Terima kasih telah memberikan buku ini kepadaku. Aku akan menjaganya dengan baik dan melanjutkan perjuanganmu.”

Di luar, matahari semakin tinggi. Sinar mentari menembus jendela kelas, menerangi debu yang menari-nari di udara. Aroma kapur dan kertas usang terasa semakin kuat, mengiringi langkah Rina menuju masa depan yang penuh harapan. Sekolah, dengan segala dinamikanya, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya, sebuah panggung di mana ia belajar, tumbuh, dan menemukan jati dirinya.